Pembentukan Regional Support Office (RSO) Dalam Bali Process

Pembentukan Regional Support Office (RSO) Dalam Bali Process

Pembentukan Regional Support Office (RSO) Dalam Bali Process

Dalam perkembangannya

Vhost.id – Negara-negara yang tergabung dalam forum Bali Process sepakat untuk membentuk sebuah Regional Support Office (RSO). RSO resmi didirikan pada tanggal 10 September 2012 di Bangkok, Thailand. Sebagaimana hal tersebut dicetuskan oleh negara Co-Chair Bali Process yaitu Australia dan Indonesia. Adapun fungsi dan tujuan didirikannya RSO sendiri adalah untuk berperan dalam memfasilitasi berbagai macm operasional dari kerangka kerjasama regional dan juga untuk mendukung dan memperkuat kerjasama praktis antar negara anggota dalam Bali Process mengenai masalah yang menyangkut perlindungan pengungsi dan kegiatan migrasi internasional. Dalam hal tersebut termasuk menangani masalah yang berhubungan dengan imigran ilegal dan kegiatan penyelundupan dan perdangangan manusia. RSO sendiri beroperasi dibawah pengawasan UNHCR serta IOM dan mendapatkan arahan dari Co-Chairs Bali Process.

RSO akan bertindak sebagai

titik fokus dengan peran sebagai berikut:

  1. Berbagi informasi dan data dengan negara anggota Bali Process mengenai perlindungan terhadap para pengungsi dan juga migrasi internasional. Dalam hal ini termasuk mengenai perdagangan dan penyelundupan manusia serta menejemen perbatasan dan komponen lainnua yang berhubungan dengan menejemen migrasi.
  2. Meningkatkan kapasitas dan melakukan pertukaran praktik terbaik diantara negara anggota Bali Process
  3. Penyatuan bersama berbagai sumber teknis yang ada di negara-negara anggota
  4. Menyediakan bantuan berupa logistik, administrasi, koordinasi dan juga dukungan operasional dalam berbagai proyek percontohan bersama.

Baca Artikel Lainnya:

Konsep Rational Choice Dalam Rezim Internasional

Konsep Rational Choice Dalam Rezim Internasional

Konsep Rational Choice Dalam Rezim Internasional

Pendahuluan

Vhost.id –Masyarakat ekonomi ASEAN merupakan suatu bentuk kerjasama antara negara-negara di ASEAN dimana bentuk kerjasama tersebut direncanakan akan berlaku pada tahun 2015. Kerjasama ini diberlakukan atas dasar pemikiran-pemikiran para pemimpin ASEAN yang ingin membuat suatu pasar tunggal ASEAN. Hal ini dilakukan agar daya saing Pasar ASEAN dapat bersaing dengan China dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing ini nantinya diharapkan dapat menguntungkan ASEAN untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraannya.dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga akan terjadi kompetisi yang sangat semakin ketat. Konsep utama dari AEC atau Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan. Untuk dapat memperoleh hasil yang optimal tentunya perlu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Hal itu membuat semua negara ASEAN harus bersiap diri menghadapi pasar global ASEAN yang semakin bebas terutama untk negara Myanmar sendiri.

Konsep Rational Choice

Dalam menjelaskan keikutsertaan Myanmar dalam MEA 2015 ini menggunakan konsep rational choice. Rational choice ini digambarkan ke dalam bentuk-bentuk game theory seperti Prisioner Dilemma (Robert Keohane dan Stephen D. Krasner), Payoff Structure (Robert Axelrod), dan juga oleh Kenneth A. Oye. Dalam teori permainan tersebut, masing-masing menggambarkan tentang rasionalitas dalam mengkalkulasi tindakan yang mengakibatkan keuntungan atau kerugian. Konsep rational choice merupakan konsep yang berangkat dari asumsi neo realis. Dalam asumsi neo realis, struktur internasional adalah anarki, dimana tidak adanya satu kekuatan dominan yang dapat mengatur negara-negara dalam sistem internasional. Dengan ketiadaan kekuatan yang dominan berarti tidak ada jaminan bahwa terciptanya kepatuhan diantara negara-negara. Dengan kondisi seperti ini, negara akan menjadi aktor yang dominan, dimana negara akan menjadi aktor yang rasional dalam hubunganya dengan negara lain dan mencapai kepentingan-kepentingan nasionalnya semaksimal mungkin. Arti minimum yang inheren di dalam konsep kepentingan nasional adalah kelangsungan hidup. Dalam pandangan Morgenthau, kemampuan minimun negara-bangsa adalah melindungi identitas fisik, politik dan kulturalnya dari gangguan bangsa-bangsa lain. Dari tujuan-tujuan umum ini para pemimpim suatu negara bisa menurunkan kebijaksanaan-kebijaksanaan spesifik terhadap negara lain, baik yang bersifat kerjasama maupun konflik. Menurut asumsi neo realis, di dalam struktur yang anarki dimungkinkan untuk terciptanya kerjasama. Kerjasama akan terjadi apabila kebijakan atau langkah yang ditempuh antara negara satu akan secara otomatis menguntungkan negara lainya (adanya harmonisasi). Tetapi apabila kerjasama tersebut tidak menemukan harmonisasi atau tidak sesuai satu sama lain maka akan terjadi konflik. Rasionalitas merupakan pilihan yang diambil menurut kalkulsi untung rugi, sehingga negara dapat mengambil keputusan yang paling menguntungkan. Dalam perspektif neo realis yang mementingkan kepentingan nasional di atas segalanya, kerugian harus di hindari untuk pencapaian kepentingan nasioal secara maksimal. Dalam hal ini rasionalitas juga membutuhkan adanya policy adjusment. Dalam proses pembuatan keputusan politik luar negeri, Graham T. Allison mengajukan tiga model pembuatan keputusan , yaitu model Aktor Rasional, Proses Organisasi, dan Politik-Birokratis. aktor rasional. Dalam model ini, politik luar negeri dipandang sebagai akibat dari tindakan-tindakan aktor rasional, terutama suatu pemerintahan yang monolit, yang dilakukan dengan sengaja untuk mencapai suatu tujuan. Pembuatan keputusan politik luar negeri digambarkan sebagai auatu proses intelektual, dengan demikian analisis politik luar negeri harus memusatkan perhatian pada pene-laahan kepentingan nasional dan tujuan suatu bangsa, alternatif-alternatif haluan kebijaksanaan yang bisa diambil oleh pemerintahnya, dan perhitungan untung rugi atas masing-masing alternatif itu. dalam model ini para pembuat keputusan diasumsikan sebagai pihak yang rasional dengan hasil keputusan yang rasional.

Myanmar dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Berbicara mengenai Myanmar, tentu tidak terlepas dari peran Junta Militer dalam menjalankan roda pemerintahan yang banyak dianggap oleh kalangan internasional merupakan rezim pemerintahan yang kejam dan banyak melakukan pelanggaran HAM di negaranya. Banyak tekanan politik ditujukan kepada Myanmar terkait kasus pelanggaran HAM, demokrasi dan perdamaian di negara tersebut. Isu demokrasi, pelanggaran HAM dan perdamaian Myanmar berimbas pada tahun 2005 ketika rotasi kepemimpinan Myanmar menjadi ketua ASEAN 2006 yang cukup banyak  mendapat perhatian dunia Internasional dan menimbulkan pro dan kontra. Karena banyak tekanan dari dunia internasional yang menganggap Myanmar banyak mempunyai catatan pelanggaran HAM dan upaya-upaya pendekatan ASEAN untuk merangkul Myanmar agar tidak menduduki posisi ketua ASEAN. Akhirnya Myanmar mengundurkan diri untuk menjadi ketua ASEAN 2006 melalui pernyataan yang dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri ASEAN. Dipandang dari segi apapun, Myanmar adalah negara yang sangat tertutup. Baik dari segi ada tidaknya partai oposisi, kebebasan media, kebebasan berkelompok, tingkat pembangunan ekonomi, peradilan yang bersih, dan hak asasi manusia, semua menunjukkan bahwa pemerintahan junta militer telah membawa Myanmar menjadi sebuah negara yang dari segi pembangunan ekonomi lemah dan tidak terdapatnya perlindungan terhadap kebebasan pers dan hak asasi manusia. Hal ini sangat meresahkan rakyat Myanmar dan menuntut segera diberlakukan suatu sistem yang baru yang bisa mengayomi rakyat Myanmar.

Posisi Myanmar sebagai ketua ASEAN 2014 merupakan masa kepemimpinan yang krusial karena tahun 2015 ASEAN akan mencanangkan era ASEAN Community dimana kepemimpinan Myanmar 2014 harus dapat menjamin langkah-langkah tersebut dan mendukung langkah-langkah yang sudah dilakukan keketuaan sebelumnya guna menjamin terwujudnya ASEAN Community 2015. Para pemimpin ASEAN memberi catatan untuk Myanmar pada 2014 mendatang untuk menjadi negara yang semakin demokratis. Maka dari itu para pemimpin ASEAN akan terus memonitor perkembangan demokrasi di Myanmar.Keadaan perekonomian Myanmar yang terpuruk adalah dampak yang paling mengerikan atas pemberlakuan sistem pemerintahan otoriter yang dijalankan oleh Jenderal Ne Win. Karena sejak Ne Win menjalankan kebijakan ekonomi tertutup seperti swasembada ekonomi dan menutup diri dari pergulatan regional dan internasional, justru membuat perekonomian negara ini semakin memburuk. Kebijakan ini merupakan suatu keputusan dari pemerintah untuk membangun ekonominya sendiri tanpa bergantung pada investor asing maupun negara lain. Myanmar menyadari bahwa di era persaingan global seperti saat ini, Myanmar tidak lagi menutup diri untuk melakukan kerjasama dan beradaptasi dengan negara-negara tetangga dan juga sebagai bukti keseriusan pemerintahan Junta Militer Myanmar dalam memperbaiki perekonomiannya. Dengan alasan inilah kemudian Junta Militer Myanmar akhirnya bergabung dengan ASEAN sebagai organisasi yang solid dalam mendorong serta menstimulasikan pertumbuhan ekonomi negara-negara anggotanya. Dan diharapkan dengan bergabungnya Myanmar menjadi anggota ASEAN dapat mendekatkan diri dengan negara-negara kawasan regional dan membangun hubungan kerjasama perdagangan baik yang bersifat regional maupun internasional. Sehingga nantinya Myanmar mampu menjual atau mengekspor produk-produk yang dihasilkan dari sumber daya alam yang dimilikinya.

Presiden Myanmar U Thein Sein menyoroti upaya ASEAN untuk menjadi kawasan ekonomi yang kompetitif melalui pembangunan usaha kecil dan menengah. Menurut dia, Myanmar menetapkan pembangunan UKM sebagai salah satu prioritas perekonomian negara itu. program pengembangan kapasitas UKM Myanmar bersama tiga negara ASEAN lain, yakni Kamboja, Laos, dan Vietnam, di bawah Inisiatif Integrasi ASEAN Fase 2, akan membantu memperkecil kesenjangan pembangunan di antara keempat negara tersebut dengan anggota ASEAN lainnya. Tujuan lainnya adalah mempercepat integrasi regional. Pernyataan Thein ini menarik, mengingat posisinya sebagai presiden pemerintahan sipil pertama Republik Uni Myanmar. Ia menjabat sejak 30 Maret 2011. Sejak itu pula Myanmar mulai melakukan berbagai kebijakan reformasi di bidang politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Khusus di bidang ekonomi, reformasi dilakukan lewat pendekatan kebijakan fiskal dan moneter serta reformasi pelayanan perbankan. Semua perkembangan positif itu mendapat pengakuan dari komunitas internasional yang, antara lain, ditunjukkan dengan dikuranginya sanksi dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Australia bagi negara berpenduduk 61 juta jiwa ini. Produk impor dari Myanmar meliputi sumber daya mineral, kacang-kacangan, jati, matpe hitam, dan tepung maizena. Thein mengimbuhkan, sebagai Ketua ASEAN 2014, Myanmar juga mendorong negara-negara ASEAN supaya berupaya sekuat tenaga guna mewujudkan integrasi ekonomi regional melalui liberalisasi arus barang, arus jasa dan investasi, tenaga kerja terampil, serta arus modal. Tujuannya adalah demi mewujudkan pencapaian Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Mengenai liberalisasi arus modal, Thein Sein percaya upaya untuk melakukan liberalisasi tarif dan pengembangan ASEAN Single Window akan meningkatkan arus perdagangan di antara negara-negara ASEAN dan di luar kawasan ASEAN. Thein melanjutkan, saat ini sebanyak 82,1 persen dari daftar langkah prioritas dalam cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 sudah berhasil diimplementasikan.
Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa kepentingan dan rasionalitas Myanmar dalam menyukseskan dan ikut berpartisipasi dalam MEA 2015 ini dapat dilihat melalui asumsi dasar dari Axelrod dan Keohane yang membagi 3 dimensi yang mempengaruhi actor melakukan kerjasama yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi berhasil atau tidaknya kerjasama tersebut yaitu mutuality of interest, the shadow of the future, dan number of actors. Dalam hal ini kelompok kami berpendapat bahwa hal yang paling menonjol yang ditunjukkan oleh Myanmar adalah kecenderungan the shadow of the future dimana Ada 4 faktor yg membantu membentuk the Shadow of the Future, yakni:

– Long Time Horizon, hubungan kerjasama terus berlanjut dalam kurun waktu yang tak terhingga.

– Regularity of Stakes, interaksi yang terus menerus bukan a single-play, satu kali permainan selesai.

– Reliability of Information about the Others’ Actions, informasi yang bisa diandalkan tentang tindakan aktor lain.

– Quick feedback about changes in the others’ actions, feedback antara kebijakan dan hasil yang cepat.

Hal ini dilihat dari kekuatan ASEAN yang ingin maju dalam ekonominya dan menjadi persatuan negara-negara ASEAN yang kuat dan dapat menyangi India dan Cina. Selain itunumber of actors juga berpengaruh dalam suatu bentuk kerjasama dalam rezim. MEA 2015 merupakan bentuk kerjasama ekonomi yang melibatkan seluruh negara-negara ASEAN. Mau tidak mau kerjasama tersebut harus dijalankan bersama dan juga harus dipatuhi bersama.

Baca Artikel Lainnya:

Pemikiran Politik Niccolo Machiavelli

Pemikiran Politik Niccolo Machiavelli

Pemikiran Politik Niccolo Machiavelli

Vhost.id – Pada masa anak-anaknya, ekonomi di negaranya sedang tumbuh dengan baik, hal tersebut dikarenakan pesatnya perdagangan yang terjadi. Pertumbuhan ekonomi juga ikut mendorong pertumbuhan kota. Disisi lain, pekembangan tersebut juga didukung dengan hadirnya mesin cetak yang kemudian terjadi perubahan pada pola ekonomi yang sebelumnya menggunakan cara barter menjadi menggunakan uang dan perbankan dalam melakukan transaksinya. Perkembangan tidak hanya terjadi dalam hal ekonomi dan pembangunan saja, namun juga merambah pada perkembangan ilmu pengetahuan, yang mana terus ditemukannya penemuan-penemuan ilmiah dan geografis baru, dan memungkinkan bagi setiap individu pada masa itu untuk melakukan ekplorasi ilmiah.

Machiavelli juga turut melakukan kristalisasi filsafat humanistik, dan mendorong adanya perubahan demografis dan munculnya tatanan sekuler adalah beberapa kunci yang menentukan kekuatan. Munculnya berbagai macam universitas mengakhiri monopoli gereja pada saat itu, meningkatnya pendidikan pada masyarakat saat itu juga ditandai dengan meningkatnya melek huruf dan kebangkitan jiwa manusia selama Renaissance. Pada saat itulah, kemudian  Individualisme dan humanisme datang ke permukaan. Buckhardt mengatakan bahwa inti mati Renaisans adalah orang baru, dengan perhatian utama kemuliaan dan ketenaran mengganti keyakinan agama dan asketisme dengan realisasi diri dan kegembiraan hidup. Karakter baru negara dengan memahami seluk-beluk penyelenggaraan negara di mana keputusan mencerminkan dorongan politik daripada agama turut muncul kepermukaan dan mewarnai kondisi saat itu.

Machiavelli sendiri lahir pada tahun 1469 di Florence (Italia) dari kalagan keluarga kaya dan terdidik , bahkan dirinya pernah menajbat sebagai seorang diplomat, namun pada tahun 1513 karirnya jatuh  dan dirinya sempat dipenjara, namun dibebaskan dengan syarat tidak lagi boleh berpolitik. Beberapa ide politik dari Machiavelli adalah mengenai peniadaan moral dalam pencapaian politik , dan sebagai seorang penguasa haruslah memiliki power yang kuat dan menguasai tentang seni memimpin . Pandangan Machiavelli juga memiliki pengaruh pada peperangan dan politik domestik-internasional. Selain itu, ide lainnya mengenai negara adalah melakukan penyatuan seluruh negara di bawah satu monarki nasional seperti pada model Perancis dan Spanyol adalah bentuk negara ideal. Menurut Dunning:  “Machiavelli berdiri di perbatasan antara Abad Pertengahan dan Abad Modern. Dia mengantarkan Zaman Modern dengan cara membersihkan politik dari kekuasaannya agama”

 

Adapun metode yang digunakan oleh Machiavelli dalam pembelajarannya adalah dengan menggunakan Metode Historical, dirinya mengemukakan bahwa pada dasarnya masalah manusia sama pada setiap waktu dan tempat. Machiavelli juga mengemukakan mengenai Politik realis, yaitu sebuah teori yang lebih berbicara mengenai seni pemerintah dalam memerintah bukan teori tentang negara, dengan menggunakan filsafat politik dan analisa empiris dan mengambil kesimpulan empiris.

          Tulisannya yang terkenal adalah “Prince” tentang monarki dan “Discourses on Livius“ tentang Republik . Sebuah pemikiran tentang bagaimana mengapai kesuksesan individu dalam mempimpin kerajaan dan terciptanya masyarakat yang bebas. Dalam tulisannya tersebut Machivaelli lebih banyak berbicara tentang metode dan cara pemimpin memegang kekuasaan.

Machivaelli menekankan agar negara dan politik harus kuat sebagai upaya negara untuk memperluas wilayah. Bagi Machivelli, tujuan dari politik adalah untuk melestarikan dan meningkatkan kekuatan politik itu sendiri. Guna kepentingan negara, maka seorang penguasa bebas melakukan apapun (tanpa moralitas) untuk negara. Negara adalah bentuk tertinggi dari asosiasi manusia dan memerlukan perlindungan, kesejahteraan, dan kesempurnaan manusia. Sekali lagi, hal tersebut dikarenakan kepentingan negara lebih tinggi dari kepentingan individu dan sosial. Oleh karena itu, peguasa harus dapat mengetahui bagaimana cara penguasa mengatur kepentingannya dengan mengkalkulasinya dari semua faktor elemen kepentingan pribadi.

Konsep Universal Egoism

Filsafat politik yang terkenal dari Machiavelli adalah “moral indifference” atau yang dikenal dengan “universal egoism”. Yaitu sebuah filsafat politik yang melihat tidak adanya kebaikan pada diri manusia, karena pada dasarnya manusia bersifat jahat dan egois. Keegoisan dan egoisme adalah kekuatan motif kepala perilaku manusia. Ketakutan adalah salah satu elemen yang memotivasi dan mendominasi dalam kehidupan, yang lebih kuat dari cinta. Dalam kata lain, motivasi terbesar manusia yang disebabkan oleh ketakutan memiliki kekuatan lebih besar dari pada motivasi karena cinta. Oleh karena itu, motif yang paling efektif dalam diri manusia adalah keinginan untuk mendapatkan rasa aman. Hal tersebut tidak terlepas dari sifat manusia yaitu, agresif dan serakah

Manusia cenderung akan terus berusaha untuk mempertahankan apa yang dimilikinya dan menambahnya. Hal itulah yang kemudian menimbulkan apa yang disebut dengan persaingan dan perselisihan abadi. Maka dari itu, tugas dari seorang penguasa adalah untuk mewujudkan rasa takut dalam masyarakatnya untuk menjaga keseimbangan dengan mewujudkan masyarakat yang sehat dan stabil dan berusaha untuk membentuk monarki absolut dan kekuasaan yang despotik

Machiavelli Tentang The Prience

The Prience hadir bukan sebagai filsafat politik/ risalah akademik namu lebih pada “realpolitik” yang sesungguhnya (dinamika politik di lapangan). Sebuah bentuk tulisan yang berisikan mengenai berbagai macam seni pemerintah dalam memerintah, dengan karakter pragmatis, dan memberikan teknik penyelenggaraan negara. Dalam tulisan tersebut, Machiavelli juga menyebut negara sebagai asosiasi sempurna dari masyarakat dan merupakan pengabungan masyarakat dengan negara merupakan diri terbaiknya

Kektakutan menjadi salah satu motif yang paling ampuh dalam mengontrol aksi individu dan masyarakat. Pangeran/ pemimpin adalah perwujudan sempurna dari kelihaian dan kontrol diri yang membuat kesetaraan antara kebajikan dan keburukannya. Seorang pemimpin diharapkan dapat menjadi layaknya seekor Singa dan Rubah, siap berdosa, oportunis, berani (licik dan penuh degan strategi), dan lebih memilih/ leih baik ditakuti dari pada dicintai oleh masyarakatnya.

Seorang penguasa harus siap untuk melepas tangan dari properti dan wanita. Bagi seoarng penguasa, negara adalah raison d’etre dari monarki; Oleh karena itu, seorang panguasa harus menganggap tetangganya dan orang sekitarnya sebagai musuh (bias jadi sebagai musuh dalam selimut) dan tetap selalu dalam keadaan waspada. Penguasa adalah pencipta dari hukum yang ada dan jgua berperan sebagai penjamin moralitas. Keadilan negara sangat penting untuk kepentingan negara dan keselamatan negara, oleh karena itu keadilan dalam bidang hukum memiliki posisi tertinggi dalam negara.

Seorang penguasa jgua dituntut untuk harus memiliki tujuan dalam melakukan akuisisi dan perluasan wilayah kekuasaannya. Oleh karena itu, seorang penguasa harus memiliki pasukan yang kuat untuk membela negaranya, bukan pasukan bayaran Menurut Machiavelli, bentuk pemerintahan yang ideal adalah Monarki dan Republik , yang mana Monarki dimana pemeintahan dipimpin oleh satu orang dan hanya dapat stabbil jika pemerintah ada banyak orang yang berperan. Namun yang utama adalah, masyarakat harus mandiri dan kua.

Doktrin Aggrandisement

Dalam doktrin Aggrandismentnya, Machiavelli mengungkapkan bahwa sebagai sebuah negara, maka tugas dari seorang penguasa adalah memperluas wilayah negaranya. Karena bagi Machiavelli, sebuah negara harus meluas atau negara tersebut akan binasa. Kekuatan senjata diperlukan untuk meningkatkan kapasitas kekuatan politik dan menjaga keberlangsungan negara. Sebagai upaya menciptakan kondisi yang demikian, maka seorang penguasa harus dapat menggunakan kekuatan yang bijaksana dan melalui seni memrintah. Pelanggaran hukum, kekacauan, dan kehancuran adalah akhir dari stabilitas. Dalam seni perang maka syarat yang paling utama dan duperlukan adalah adanya pasukan yang kuat dan loyal.

Baca Artikel Lainnya:

Perilaku Yang Menjadikan Seseorang Kaya atau Kekayaan Yang Membentuk Perilaku Seseorang

Perilaku Yang Menjadikan Seseorang Kaya atau Kekayaan Yang Membentuk Perilaku Seseorang

Perilaku Yang Menjadikan Seseorang Kaya atau Kekayaan Yang Membentuk Perilaku Seseorang

Vhost.id – Sering kali saya berdiskusi dengan bapak saya, dan salah satu tema yang menarik adalah pertanyaan sekaligus pernyataan dari bapak saya, “prilaku yang menjadikan orang itu kaya atau kekayaan itu yang membentuk prilakunya?”. Pernyataan tersebut dilator belakangi oleh pengalaman bapak saya saat kuliah D3 di salah satu sekolah tinggi yang ada di Kota Bekasi saat itu. Konon bapak saya memiliki beberapa dosen yang dapat dikatakan ‘ringan tangan’, namun bukan ringan tangan dalam artian negatif suka memukul atau kasar. Ringan tangan yang dimaksud di sini adalah tidak rumit, tidak njelimet, simpel dan menyenangkan. Kalau bapak saya bilang, ‘orangnya enakan’, tidak sulit memberikan nilai baik kepada mahasiswanya kecuali mahasiswa tersebut memang tidak bisa dan tidak pernah melakukan apa-apa (baik tugas maupun ujian) dan tidak pernah menyusahkan orang.

        Lebih lanjut bapak saya bercerita, jikalau dosen tersebut juga secara materi memang sudah dapat tergolong mampu. Meninggat saat itu masih sekitar tahun 1995-1997, masa yang tergolong cukup sulit untuk membangun pondasi ekonomi yang baik. Namun dosen bapak saya tersebut sudah tergolong mampu, karena si dosen sudah menggunakan kendaraan pribadi yang berupa mobil. Pada saat itu sudah termasuk barang mewah, karena tidak semua orang memiliki mobil (tidak seperti masa sekarang, yang hampir setiap keluarga sudah memiliki mobil). “Kalau tidak orang kaya, tahun segitu mana bisa punya mobil”, cerita bapak saya.

 

     Jawaban pasti dari saya adalah, “ya pasti dari prilakunya dulu lah bapak, baru kekayaan itu datang”. Pikiran saya sederhana, karena prilaku pada dasarnya adalah pondasi utama bagi manusia sebagai bekal untuk hidup. Prilaku yang positif, pasti akan memiliki dampak yang  positif, khususnya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, iklim yang akan berada di sekitar orang tersebut menjadi kondisi yang positif. Jika hal tersebut sudah terjadi, maka bukannya tidak mungkin jika rejeki akan dengan mudah berdatangan. Bayangkan jika prilakunya adalah prilaku yang negative dan memberikan pengaruh yang negatinf juga untuk sekitarnya. Datang atau bertatap muka dengan orang dengan wajah yang murung dan raut wajah yang suram, bagaimana orang sekitarnya akan merespon? Pasti dan tidak akan jauh berbeda juga akan meresponnya dengan pengaruh yang negatif juga.

        Pernyataan bapak saya tersebut tidak jauh berbeda dengan pertanyaan yang diajukan oleh Tony Stark dalam film Iron Man, “kitalah yang menciptakan setan (dalam diri kita) sendiri”. Tindakan kita saat ini adalah hasil dari tindakan kita di masa lalu, dan tindakan kita di masa depan, adalah hasil dari tindakan dan prilaku kita saat ini. Begitu besarnya dampak yang diakibatkan oleh prilaku kita sendiri, maka tidak heran jika dalam Al Qur’an Allah mengatakan bahwa ‘tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum tersebut mengubah apa yang ada di dalam dirinya sendiri terlebih dahulu’. Dalam diri juga memiliki penafsiran yang beragam, bisa pikiran dan juga prilaku kita.

      Berbeda jika kita melihatnya dari kekayaan terlebih dahulu, yaitu kekayaanlah yang membentuk prilaku seseorang. Saya rasa hal tersebut bisa saja terjadi pada seseorang, namun saya selalu yakin jika kekayaan yang berbentuk demikian adalah kekayaan semu, yaitu kekayaan yang pasti akan cepat berakhir (hal ini bisa sangat terjadi kepada orang kaya yang buruk prilakunya). Telah banyak dalam Al Qur’an Allah memberikan contoh, bagaiamana raja-raja yang buruk prilakunya kemudian Allah binasakan dan dijadikan pelajaran bagi orang-orang setelahnya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak mampu untuk mengolah kekayaan yang dimilikinya. Lalu bagaimana jika orang tersebut sudah kaya dan berprilaku baik? Itu adalah anugrah, dan bisa juga merupakan takdir atau nasib dari orang tersebut.

      Tidak bisa kita pungkiri bahwa prilaku kita juga dikendalikan oleh kondisi dan pikiran kita, oleh karena itu kita harus selalu bersuaha untuk menjaga pikiran dan hati kita dalam kondisi terbaiknya. Baik artinya tidak tertekan dan tidak menderita, selalu berada dalam kedamaian dan ketenangan, terlepas dari apaun kondisi fisik yang kita alami. Lagi-lagi Iagi, Islam memberikan solusinya, yaitu dengan menginggat Allah (hanya dengan menginggat Allah lah, hati akan merasa tenang).

      Maka akhri dari obrolan tersebut adalah, saya dan bapak saya percaya jika prilaku seseoranglah yang nantinya akan menentukan nasib orang tersebut. Apakah akan menjadi orang yang sukses, atau menjadi orang yang tidak sukses. Satu hal yang terpenting adalah, jangan takut untuk menjadi orang sukses dan kaya. Dengan menjadi orang sukses dan kaya, setidaknya kita akan lebih dapat banyak beramal dan berbagi. Artinya, kita justru akan menjadi jauh lebih dekat lagi dengan kesuksesan itu sendiri.

Baca Artikel Lainnya:

Pemikiran Politik George Wilhelm Friedrich Hegel

Pemikiran Politik George Wilhelm Friedrich Hegel

Pemikiran Politik George Wilhelm Friedrich Hegel

Vhost.id – Friedrich Hegerl merupakan tokoh produk dari idealisme Jerman yang berkembang saat itu. Dimana Hegel mengungkapkan bahwa kehendak individu/ masyarakat diungkapkan secara totalitas oleh individu tersebut dalam bentuk kehendak negara. Menurut Hegel, kesadaran dan moral yang ada di dalam sebuah negara berasal dari keinginan individu secara kolektif. Pendekatan yang digunakan Hegel dalam filsafatnya menggunakan logika dialektika ‘roh’. Adapun komponen penting dalam sebuah negara menurut Hobbes adalah masyarakat sipil dan keluarga.

Life and Times

    Hegel sendiri lahir di Wurtemberg (Southern, Germany) pada tahun 1770. Pada tahun 1793, mendapat gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari University of  Tubingon. Dan pada tahun 1801 menjadi dosen di Jena University. Tahun selanjutnya, pada 1816, Hegel menjadi profesor filsafat di Universitas Heidelberg. Pada tahun 1818, Hegel diangkat menjadi profesor filsafat di Berlin, Jerman.  Beberapa major work, dari Hegel adalah Phenomenology of Mind (ditulis pada tahun 1807), kedua, Science of Logic (1811-12). Ketiga, Encylopedia of the Philosophical Science (Heidelberg). Keempat, Pholosophy of Right (political theory). Kelima, Philosophy of History (published by his son)

Spiritual Ancestry

     Dalam pendekatan filsafatnya, Hegel meminjam dan menggunakan dialektika Socrates dan teologi dari Aristoteles. Teleologi sendiri adalah sebuah teori pengetahuan yang mengacu pada sebuah hal, yang dipahami dari segi akhir atau tujuannya. Untuk logika rasional sendiri, Hegel meminjam rasionalitas yang juga digunakan oleh Immanuel Kant. Menurut Hegel, negara didirikan berdasarkan reason dan hukum dari negara melalui perintah akal murni. Sama seperti Kant, Hegel juga tidak memberikan hak kepada individu untuk menolak/ menentang perintah negara. Sama seperti Rosseau, Hegel juga memposisikan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Filsafat Hegel adalah historic in nature, yang mana historisme dipahami sebagai doktrin yang berbeda-beda. Dalam pandangan umum pengetahuan historis terdapat batasan dalam setiap kejadian, yang digunakan sebagai alat untuk mengontrol semua kejadian secara rasional. Beberapa pristiwa sejarah yang mempengaruhi pandangan Hegel adalah sat terjadinya Revolusi Perancis (1789) dan penaklukan Jerman oleh Napoleon pada awal abad ke-19. Sampai pad aperkembangan filsafatnya, Hegel meminjam banyak pemikiran dari filsuf terdahulu untuk mengembangkan filsafatnya.

Idealisme Hegel

      Sejarah ide politik Hegel terdapat dua pemikiran utama, yaitu rasionalitas-idealisme dan naturaly serta rasionalisme-empirisme. Bagi Hegel, gagasan merupakan pengetahuan murni dari setiap pengetahuan materi dan non materi (merupakan hal yang nyata dan permanen), seperti contohnya: meja-kursi merupakan bagian dari pengetahuan murni dari setiap materi yang dapat diindra oleh manusia, dan panas-dingin merupakan sesuatu non materi yang nyata dan sifatnya permanen atau absolut (tidak berubah-ubah, ide tentang panas, ide tentang dingin). Oleh karena itu, idealisme Hegelian merupakan sebuah bentuk idealisme yang bersifat absolut dengan memberikan seperangkat katagori pemahaman masa lalu masa lalu dan masa kini dalam bentuk intepretasi idealis sejarah. Bagi Hegel, ide merupakan penggerak murni dari sejarah (memberikan momentum dari sejarah melalui perkembangan ide). Perkembangan Ide memberikan perubahan/ perkembangan dalam masyarakat (sosial, ekonomi, politik, dan budaya). Idealisme hegel adalah sebuah idealisme absolut (melihat hubungan antara subjek dan objek yaitu alam pikiran dan dunia)

Metode Dialektika

      Dialektika pada umumnya menunjuk suatu proses dimana pertentangan-pertentangan dihilangkan. Pertentangan dapat terletak dalam pikiran dan kenyataan. Maka metode diallektika digunakan untuk memahami dialektika kenyataan. Berpikir mengenai dialektika itu sendiri merupakan sebuah jalan dalam perkembangan roh secara dialektika. Adapun yang dimaksud dengan cara berpikir dialektika adalah dengan mengungkapkan hubungan timbal balik yang lebih mendalam antara gejala-gejala yang terjadi dan menganggap bahwa gerak merupakan bagian dari proses kejadian sebagai sesuatu yang primer. Sebuah kenyataan yang menjelaskan bahwa pada dasarnya kenyataan adalah sebuah bentuk yang dinamis bukan statis, dan akan selalu dalam sebuah proses perkembangan menuju kea rah bentuk yang lebih tinggi. Perkembangan tersebut yang kemudian disebut sebagai thesis, antithesis, dan synthesis.

     Hegel meminjam pemikiran dari Socrates dalam sebuah metode, bagaimana Socraters melihat kebenaran yang didapat melalui pertanyaan konstan dengan melalui diskusi. Ide tersebut menimbulkan counter ide lainnya dan memunculkan ide alternatif yang kemudian akan mendapatkan/ melahirkan ide baru. Hegel berpendapat bahwa melalui penggunaan metode dialektika ia telah menemukan formula terbesar dalam sejarah filsafat, pemikiran mendorong dirinya sendiri untuk menemukan pemikiran baru. Idealisme dialektis sendiri adalah sebuah cara logis untuk menafsirkan perjalanan sejarah dalam perspektif yang benar. Menurut Hegel, sebuah fenomena dapat secara baik dipahami melalui dialektika tesis, antitesis, dan sintesis, Ex: Kelaurga-masyarakat-negara, Depotisme-demokrasi-monarki konstitusional, Dunia anorganik-dunia organik-manusia

Teologi Filsafat Hegel

     Untuk memahami jalan pemkiran dari Hegel, maka langkah pertama yang sangat penting adalah memahami karya-karya awal Hegel yang kental dengan pendekatan teologi. Minat awal Hegel terkait dengan teologi akan mewarnai pemikiran dan filsafatnya di kemudian hari. Yaitu, usaha Hegel untuk memulihkan kesatuan asali yang lenyap dalam agama Kristen. Pandangan Hegel mengenai agama dan kritiknya terhadap abad pencerahan adalah paham agama yang disebarkan pada masa pencerahan. Masa pencerahan mengatakan bahwa agma Kristen adalah sebuah agama rasional. Menurut Hegel, dengan pandangan seperti itu justru membuat semagat para pengikutnya tercabut dari semangat kebudayaan Jerman. Agama yang diharapkan oleh Hegel adalah seperti halnya agama Yunani, yaitu sebuah agama yang berakar kuat dari semangat masyarakatnya sehingga terintegrasi ke dalam kebudayaan Yunani.

     Agama Yunani adalah agama rakyat, sebuah agama yang rasional namun tetap berakar dalam semangat rakyat. Namun kekurangan dalam agama Yunani tersebut adalah kurang merenungkannya moralitas, dan itu semua telah dilengkapi dalam Agama Kristen. Oleh karena itu, ide normative dari Hegel adalah sebuah agama yang dapat menjadi “totalitas etis” baik mencakup kegeniusan maupun semangat rakyat Jerman. Dalam tulisanya Positivitas Agama Kristen, Hegel berusaha menjelaskan mengapa agama Kristen berubah menjadi agama yang rasional namun juga otoriter. Dalam sebuah gereja terdapat “komunitas etis”, yang kemudian dalam perkembangannya menjadi sebuah sumber gambaran gereja tersebut. Meskipun demikian, terdapat pengaturan pada ajaran-ajaran rasul dan muridnya yang di kemudian hari menjadikan manusia menjadi semakin terasing dari dirinya. Kebebasan berpikir akhirnya lenyap oleh dikarenakan dogma-dogma gereja yang semakin lama terus berkembang oleh gereja selanjutnya. Hal tersebut menjadikan manusia semakin terasing, bahkan dari Tuhannya sendiri.

      Dalam Katolisisme, keterasingan tersebut dipulihkan melalui kepercayaan akan sakramen-sakramen. Seperti halnya alienasi yang terjadi dalam agama Yahudi yang menganggap Allah sebagai tuan dan manusia sebagai budaknya. Oleh karena itu, dalam Kristen, Allah adalah kasih, maka dari itu keterasingan manusia dari Allah dapat diatasi dengan kasih. Hegel berusaha keras untuk menemukan kembali kesatuan asali yang telah hilang tersebut yaitu sebuah bentuk dari totalotas etis. Permasalahan tersebut diangkat oleh Hegel menjadi tema utama dalam filsafatnya dalam bentuk idealism.

Tujuan dari Filsafat

      Menurut Hegel, tujuan mendasar dari filsafat adalah mengatai oposisi-oposisi yang terdapat dalam alam pikiran manusia. Yaitu, berbagai macam pikiran yang saling bertentangan, seperti dualism jiwa dan badan, alam dan roh, serta hal-hal yang terbatas dan tidak terbatas. Bagi Hegel, oposisi tersebut tidak menimbulkan kepuasan pikiran, dan pentingnya dasar dari rasio adalah mengusahakan kesatuan utuh dari oposisi-oposisi tersebut. Hal tersebut dikarenakan, rasio selalu ingin mencapai sesuatu yang absolute. Oleh karena itu, Hegel merumuskan sesuatu yang absolut dengan jalan filsafat. Masalah terbesar yang dihadapi oleh Hegel adalah jalan yang akan digunakan secara filosofi tidaklah lain menggunakan refleksi yang termasuk dalam intelek dan beroperasi dengan data indrawi. Hegel mengatasi masalah tersebut dengan cara mengangkat refleksi mengenai sesuatu yang absolut tersebut ke taraf rasio atau intuisi intelektual. Sebuah cara dalam mengabungkan antara refleksi dn intuisi menjadi spekulasi filosofis.

Perkembangan Bentuk Roh, Negara, dan Realitas Sosial 

     Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bebas, dan bergerak berdasarkan pikiran rasional yang mengaur kesadaran dirinya sendiri. Namun di sisi lain, manusia juga memiliki watak untuk lebih mementingkan dirinya sendiri, dan sering kali kebebesan yang dimilikinya bersinggungan dengan kebebasan orang lain. Oleh karena itulah, terdapat sebuah alasan untuk membatasi kebebasan dari diri manusia tersebut. Hal tersebut kemudian menjadikan manusia selalu berada dalam pengawasan kekuasaan, yang fungsinya adalah untuk mengkontrol agar kebebasan yang dimiliki manusia tidak bertentangan dengan negara dan kekuasaan itu sendiri.

       Menurut Hegel, manusia yang mampu untuk mengaktualisasikan kebebasan sebagai suatu realitas sosial, hanyalah manusia yang bermoral tinggi. Hal itu berbanding terbalik dengan sekumpulan manusia yang terdiri dari manusia rakus yang juga memiliki kesadaran diri tinggi, manusia tersebut menurut Hegel akan selalu gagal untuk mewujudkan kebebasan. Hegel sendiri setuju dengan pemikiran dasar Rousseau yang mengungkapkan kehendak dan kebebasan rakyat dapat diakomodir dalam sebuah institusi yang bernama negara. Meskupun demikian, Hegel tetap menolak kehendak umum dengan tidak selalu seiring dengan apa yang timbul dalam kehendak rakyat pada saat tertentu, yang mana inti dari paham Hegel terkait dengan roh adalah roh subjektif dan roh objektif.

        Filsafat Hegel berangkat dari roh sebagai proses dari perkembangan dari segala sesuatu. Menurut Hegel, realitas adalah bukan sesuatu yang statis. Realitas akan selalu berkembang, mengasingkan diri, menemukan diriya seniri kembali, meyadari dirinya sendiri melalui taraf-taraf dialektis yang semakin mendalam. Realitas adalah bagian dari subjek yang mana di belakang itu semua terdapat realitas alam, manusia, masyarakat, dan pemikiran individu sosial, dan dari itu semua berlangsunglah sebuah proses pernyataa diri roh alam semesta. Roh subjektif adalah kesadaran masing-masing individu dalam suatu masyarakat. Roh ini bersifat kebeulan dan beraneka ragam karena tergantung pada letak dan situasi masing-masing individu.

       Dalam hal ini kita berbicara mengenai apa yang disebut sebagai kebudayaan, sistem nilai, cara berfikir yang khas dari suatu masyarakat. Kesatuan dari rohani itulah yang kemudian disebut Hegel sebagai roh objektif, roh semesta berada dibalik roh objektif. Roh semesta pad aakhirnya akan selalu menyatakan diri melalu tahapan-tahapan artikulasi kerohanian manusia. Maka dari itu, pikiran dan kehendak setiap manusia yang tampaknya kebetulan dan tanpa aturan pada dasarnya memiliki logika yang mendalam. Relaita sebagai ungkapan roh semesta pada hakikatnya bersifat rasional. Rasionalitas akan individu terungkap dalam roh objektif tanpa disadari oleh individu itu sendiri. Roh objektif tersebut dapat berbentuk identitas dan bentuk defintif dalam kehendak negara. Melalui kehendak negara, masyarakat bertindak sebaga kesatuan.

      Negara mengungkapkan kehendak rakyatnya, meskipun pada fakta empirisnya negara tidak menghendaki apa yang dikehendaki oleh individu. Meskipun demikian, dalam perspektif Hegel, dirinya memandang bahwa negara bersifat otonom dari persetujuan masyarakat. Negara merupakan sebuah jembatan yang mempertemukan kehendak individu dengan kehendak negara. Hal tersebut dikarenakan negara merupakan bentuk dari roh semesta yang menyatakan diri dalam roh subjektif dan objektif. Bagi Hegel, dimensi kekuasaan negara atas hak-hak individu bahkan yang bersifat tresendenpun adalah absolute. Negara merupakan bagian dari perkembangan ide absolute tersebut, wujud perkembangan tersebut juga melalui metode dialektia, yang mana puncak dari dialektika tersebut adalah lahirnya ide mutlak. Pandangan roh yang absolute tersebutlan yang menandai adanya pandangan  Hegel yang sacral dalam memaknai negara. Bagi Hegel, negara merupakan sebuah lembaga yang mendefinisikan ide sebagai ide yang eksis di atas bumi sebagai wujud Tuhan di muka bumi.

Filsafat Sejarah     

                       

      Menurut pandangan Hegel, hal atau benda yang bersifat material merupakan sebuah hasil komulatif dari evolusi ide mutlak yang berjalan secara terus menerus. Hal tersebut disebabkan karena, ide absolute akan terus bergerak secara dinamis dan akan selalu mengalami perkembangan. Ide akan terus bergerak maju untuk merealisasikan dirinya sendiri (unfolding of the reason) dan alam semesta terbentuk dari padanya. Hal tersebut dapat dilihat melalui beberapa bentuk perumpamaan yang diberikan oleh Hegel sebagai perkembagnan dari ide dalam filsafat sejarahnya. Bentuk pertama: materi anorganik, bentuk roh (materi kotor). Bentuk kedua: materi organik (hewan, tumbuhan). Bentuk ketiga: evolusi manusia (agen rasional mampu membedakan baik dan buruk). Bentuk keempat: evolusi sistem keluarga (lambang kesatuan). Bentuk kelima: evolusi sistem masyarakat (ketergantungan dalam berbagai aspek, lambang kekhususan). Bentuk terkahir: evolusi negara (tatanan moral yang sempurna dan melambangkan universalitas).

        Hegel menggambarkan perkembangan dunia filsafat ide dalam bentuk sebagaimana berikut: Anorganik – dunia organik – manusia – keluarga – masyarakat sipil – Negara . Filsafat sejarah berusaha untuk memecahkan masalah dasar tentang hubungan antara materi dan Roh, dengan menyatakan bahwa materi hanya manifestasi dari Roh dalam bentuk mentah. Materi tidak hanya negasi dari Roh tetapi juga realisasi sadar Roh. Dimensi penting kedua, dari filsafat sejarah  Hegel adalah doktrin historisme, yaitu sebuah doktrin Historisme yang menyatakan bahwa seluruh perjalanan sejarah sudah ditentukan sebelumnya. Intervensi/ usaha manusia dapat efektif hanya jika jatuh sejalan dengan arah dialektika sejarah dunia. Dimensi utama ketiga, dari filsafat Historis Hegel adalah penggunaan teleologi Aristoteles, bergerak menuju ujung sifat sejati (hakikat tujuan). Dari sudut pandang aktor manusia, sejarah adalah sebuah serikat ironi dan tragedi yang terjadi dalam urutan waktu tertentu dan memberikan makna pada kehidupan manusia. Bagi Hegel, sejarah dunia menunjukkan perkembangan kesadaran kebebasan pada bagian dari Roh. Filsafat historisme hegel terdiri dari dua bagian: pola umum dan berbagai tahapan dalam pola umum, yang berbicara mengenai doktrin perubahan dalam pegerakan sejarah (dorongan nafsu manusia)

 

Teori Negara Hegel

      Teori negara Hegel berakar pada aksioma: “Apa yang rasional adalah nyata dan apa yang nyata adalah rasional“. Oleh karena itu, Hegel memandang bawha pembentukan atau lahirnya sebuah negara tidak lain didasarkan atas premis dasar sebuah ide absolut melalui proses dialektis. Negara adalah sebuah bentuk yang rasional, oleh karena itu, negara adalah nyata, karena berdasarkan filsafat Hegel, apa yang rasional adalah nyata. Hegel juga membedakan antara yang nyata dan yang hanya ada, Hegel berusaha untuk menjembatani kesenjangan antara rasional dan nyata, yang tidak lain adalah manifestasi semangat tujuan negara tersebut. Negara rasional adalah negara yang datang dari ‘reason’, tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa adanya ‘reason’. Dalam pandangan filsafat sejarah Hegel, terkait dengan proses pembentukan atau lahirnya negara, adalah dari sebuah proses setiap kejadian yang berlangsung sesuai dengan rencana yang rasional.

       Negara adalah manifest tertinggi dari ‘reason’, muncul sebagai sintesis dari keluarga (tesis) dan masyarakat (antitesis). Negara merupakan sebuah wujud absolute dari komunitas masyarakat yang hadir sebagai pemenuh kebutuhan manusia. Negara terlihat setelah kepentingan universal seluruh masyarakat memperoleh karakter organiknya. Teori negara kompleks Hegel, Pertama, Negara berasal dari Tuhan. Kedua, Negara bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan, melainkan sebagai tujuan itu sendiri. Ketiga, Negara lebih besar dari individu. Individu penting karena mereka bagian dari negara. Oleh karena itu, dalam pandangan Hegel, Individu benar-benar menjadi bawahan negara, karena hanya negara yang tahu, kepentingan individu. Negara adalah sempurna karena bagian dari ketuhanan.

Teori Kebebasan Individu Hegel

         Kebebasan individu menurut Hegel adalah, dimana Individu tidak memiliki hak terhadap negara karena negara merupakan sumber dari hak tersebu, karena negara adalah bentuk ide yang absolute dari masyarakat dan individu, negara tahu apa yang baik bagi masyarakatnya. Kebebasan individu terletak pada ketaatan lengkap dari hukum negara, karena negara adalah super-organisme di mana tidak ada yang memiliki preferensi individu berbeda dari unit yang lebih besar. Filsafat terpenting Hegel: pengagungan negara yang lengkap dengan negasi dari hak dan kebebasan individu. Oleh karena itu, maka kebebasan nyata dari individu dapat direalisasikan hanya di negara. Satu-satunya cara bagi individu untuk bebas adalah untuk rela mematuhi hukum negara. Hubungan antara negara dan individu dalam pandangan Hegel sangat dekat dengan posisi Rousseau.

       Individu hanya bebas jika ia mengidentifikasikan dirinya sadar dengan hukum yang berlaku dan mentaati hukum negara. Negara tidak pernah salah, oleh karena itu, jika pernah ada konflik antara individu dan negara, individu selalu salah dan negara selalu benar. Negara Hegelian adalah seperti Leviathan Hobbes dalam pakaian baru, “hegel menyatakan bahwa individu tidak memiliki hak untuk menolak negara atau tidak mematuhi perintah negara”. Individu tidak memiliki hak untuk menentang negara, karena negara merupakan perwujudan dari reason dan individu yang absolute. Perbedaan cara pandang Hegel dengan Hobbers mengenai hubungan natara negara dengan individu adalah, diman Hegel memandang hubungan yang terjadi antara individu-negara sebagai hubungan organic, sedangkan Hobbes hubungan mekanik melalui kontrak

Kesimpulan

     Hegel merupakan salah satu pemikir besar abad modern di Jerman dan Eropa pada umumnya. Dimana pandangan Hegel menitikberatkan pada  puncak/ tujuan akhir dari ide absolut seiring dengan perjalanan dan perkembangan ide tersebut. Fukuyama membuat perbandingan antara pengaruh lanjutan dari Marx dan Hegel yang menyatakan kemenangan Hegel, sebagai doktrin liberalisme modern yang tidak berakhir pada  “keinginan untuk pengakuan” tetapi lebih pada transformasi “menjadi bentuk yang lebih rasional”