Pemikiran Politik George Wilhelm Friedrich Hegel

Pemikiran Politik George Wilhelm Friedrich Hegel

Pemikiran Politik George Wilhelm Friedrich Hegel

Vhost.id – Friedrich Hegerl merupakan tokoh produk dari idealisme Jerman yang berkembang saat itu. Dimana Hegel mengungkapkan bahwa kehendak individu/ masyarakat diungkapkan secara totalitas oleh individu tersebut dalam bentuk kehendak negara. Menurut Hegel, kesadaran dan moral yang ada di dalam sebuah negara berasal dari keinginan individu secara kolektif. Pendekatan yang digunakan Hegel dalam filsafatnya menggunakan logika dialektika ‘roh’. Adapun komponen penting dalam sebuah negara menurut Hobbes adalah masyarakat sipil dan keluarga.

Life and Times

    Hegel sendiri lahir di Wurtemberg (Southern, Germany) pada tahun 1770. Pada tahun 1793, mendapat gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari University of  Tubingon. Dan pada tahun 1801 menjadi dosen di Jena University. Tahun selanjutnya, pada 1816, Hegel menjadi profesor filsafat di Universitas Heidelberg. Pada tahun 1818, Hegel diangkat menjadi profesor filsafat di Berlin, Jerman.  Beberapa major work, dari Hegel adalah Phenomenology of Mind (ditulis pada tahun 1807), kedua, Science of Logic (1811-12). Ketiga, Encylopedia of the Philosophical Science (Heidelberg). Keempat, Pholosophy of Right (political theory). Kelima, Philosophy of History (published by his son)

Spiritual Ancestry

     Dalam pendekatan filsafatnya, Hegel meminjam dan menggunakan dialektika Socrates dan teologi dari Aristoteles. Teleologi sendiri adalah sebuah teori pengetahuan yang mengacu pada sebuah hal, yang dipahami dari segi akhir atau tujuannya. Untuk logika rasional sendiri, Hegel meminjam rasionalitas yang juga digunakan oleh Immanuel Kant. Menurut Hegel, negara didirikan berdasarkan reason dan hukum dari negara melalui perintah akal murni. Sama seperti Kant, Hegel juga tidak memberikan hak kepada individu untuk menolak/ menentang perintah negara. Sama seperti Rosseau, Hegel juga memposisikan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Filsafat Hegel adalah historic in nature, yang mana historisme dipahami sebagai doktrin yang berbeda-beda. Dalam pandangan umum pengetahuan historis terdapat batasan dalam setiap kejadian, yang digunakan sebagai alat untuk mengontrol semua kejadian secara rasional. Beberapa pristiwa sejarah yang mempengaruhi pandangan Hegel adalah sat terjadinya Revolusi Perancis (1789) dan penaklukan Jerman oleh Napoleon pada awal abad ke-19. Sampai pad aperkembangan filsafatnya, Hegel meminjam banyak pemikiran dari filsuf terdahulu untuk mengembangkan filsafatnya.

Idealisme Hegel

      Sejarah ide politik Hegel terdapat dua pemikiran utama, yaitu rasionalitas-idealisme dan naturaly serta rasionalisme-empirisme. Bagi Hegel, gagasan merupakan pengetahuan murni dari setiap pengetahuan materi dan non materi (merupakan hal yang nyata dan permanen), seperti contohnya: meja-kursi merupakan bagian dari pengetahuan murni dari setiap materi yang dapat diindra oleh manusia, dan panas-dingin merupakan sesuatu non materi yang nyata dan sifatnya permanen atau absolut (tidak berubah-ubah, ide tentang panas, ide tentang dingin). Oleh karena itu, idealisme Hegelian merupakan sebuah bentuk idealisme yang bersifat absolut dengan memberikan seperangkat katagori pemahaman masa lalu masa lalu dan masa kini dalam bentuk intepretasi idealis sejarah. Bagi Hegel, ide merupakan penggerak murni dari sejarah (memberikan momentum dari sejarah melalui perkembangan ide). Perkembangan Ide memberikan perubahan/ perkembangan dalam masyarakat (sosial, ekonomi, politik, dan budaya). Idealisme hegel adalah sebuah idealisme absolut (melihat hubungan antara subjek dan objek yaitu alam pikiran dan dunia)

Metode Dialektika

      Dialektika pada umumnya menunjuk suatu proses dimana pertentangan-pertentangan dihilangkan. Pertentangan dapat terletak dalam pikiran dan kenyataan. Maka metode diallektika digunakan untuk memahami dialektika kenyataan. Berpikir mengenai dialektika itu sendiri merupakan sebuah jalan dalam perkembangan roh secara dialektika. Adapun yang dimaksud dengan cara berpikir dialektika adalah dengan mengungkapkan hubungan timbal balik yang lebih mendalam antara gejala-gejala yang terjadi dan menganggap bahwa gerak merupakan bagian dari proses kejadian sebagai sesuatu yang primer. Sebuah kenyataan yang menjelaskan bahwa pada dasarnya kenyataan adalah sebuah bentuk yang dinamis bukan statis, dan akan selalu dalam sebuah proses perkembangan menuju kea rah bentuk yang lebih tinggi. Perkembangan tersebut yang kemudian disebut sebagai thesis, antithesis, dan synthesis.

     Hegel meminjam pemikiran dari Socrates dalam sebuah metode, bagaimana Socraters melihat kebenaran yang didapat melalui pertanyaan konstan dengan melalui diskusi. Ide tersebut menimbulkan counter ide lainnya dan memunculkan ide alternatif yang kemudian akan mendapatkan/ melahirkan ide baru. Hegel berpendapat bahwa melalui penggunaan metode dialektika ia telah menemukan formula terbesar dalam sejarah filsafat, pemikiran mendorong dirinya sendiri untuk menemukan pemikiran baru. Idealisme dialektis sendiri adalah sebuah cara logis untuk menafsirkan perjalanan sejarah dalam perspektif yang benar. Menurut Hegel, sebuah fenomena dapat secara baik dipahami melalui dialektika tesis, antitesis, dan sintesis, Ex: Kelaurga-masyarakat-negara, Depotisme-demokrasi-monarki konstitusional, Dunia anorganik-dunia organik-manusia

Teologi Filsafat Hegel

     Untuk memahami jalan pemkiran dari Hegel, maka langkah pertama yang sangat penting adalah memahami karya-karya awal Hegel yang kental dengan pendekatan teologi. Minat awal Hegel terkait dengan teologi akan mewarnai pemikiran dan filsafatnya di kemudian hari. Yaitu, usaha Hegel untuk memulihkan kesatuan asali yang lenyap dalam agama Kristen. Pandangan Hegel mengenai agama dan kritiknya terhadap abad pencerahan adalah paham agama yang disebarkan pada masa pencerahan. Masa pencerahan mengatakan bahwa agma Kristen adalah sebuah agama rasional. Menurut Hegel, dengan pandangan seperti itu justru membuat semagat para pengikutnya tercabut dari semangat kebudayaan Jerman. Agama yang diharapkan oleh Hegel adalah seperti halnya agama Yunani, yaitu sebuah agama yang berakar kuat dari semangat masyarakatnya sehingga terintegrasi ke dalam kebudayaan Yunani.

     Agama Yunani adalah agama rakyat, sebuah agama yang rasional namun tetap berakar dalam semangat rakyat. Namun kekurangan dalam agama Yunani tersebut adalah kurang merenungkannya moralitas, dan itu semua telah dilengkapi dalam Agama Kristen. Oleh karena itu, ide normative dari Hegel adalah sebuah agama yang dapat menjadi “totalitas etis” baik mencakup kegeniusan maupun semangat rakyat Jerman. Dalam tulisanya Positivitas Agama Kristen, Hegel berusaha menjelaskan mengapa agama Kristen berubah menjadi agama yang rasional namun juga otoriter. Dalam sebuah gereja terdapat “komunitas etis”, yang kemudian dalam perkembangannya menjadi sebuah sumber gambaran gereja tersebut. Meskipun demikian, terdapat pengaturan pada ajaran-ajaran rasul dan muridnya yang di kemudian hari menjadikan manusia menjadi semakin terasing dari dirinya. Kebebasan berpikir akhirnya lenyap oleh dikarenakan dogma-dogma gereja yang semakin lama terus berkembang oleh gereja selanjutnya. Hal tersebut menjadikan manusia semakin terasing, bahkan dari Tuhannya sendiri.

      Dalam Katolisisme, keterasingan tersebut dipulihkan melalui kepercayaan akan sakramen-sakramen. Seperti halnya alienasi yang terjadi dalam agama Yahudi yang menganggap Allah sebagai tuan dan manusia sebagai budaknya. Oleh karena itu, dalam Kristen, Allah adalah kasih, maka dari itu keterasingan manusia dari Allah dapat diatasi dengan kasih. Hegel berusaha keras untuk menemukan kembali kesatuan asali yang telah hilang tersebut yaitu sebuah bentuk dari totalotas etis. Permasalahan tersebut diangkat oleh Hegel menjadi tema utama dalam filsafatnya dalam bentuk idealism.

Tujuan dari Filsafat

      Menurut Hegel, tujuan mendasar dari filsafat adalah mengatai oposisi-oposisi yang terdapat dalam alam pikiran manusia. Yaitu, berbagai macam pikiran yang saling bertentangan, seperti dualism jiwa dan badan, alam dan roh, serta hal-hal yang terbatas dan tidak terbatas. Bagi Hegel, oposisi tersebut tidak menimbulkan kepuasan pikiran, dan pentingnya dasar dari rasio adalah mengusahakan kesatuan utuh dari oposisi-oposisi tersebut. Hal tersebut dikarenakan, rasio selalu ingin mencapai sesuatu yang absolute. Oleh karena itu, Hegel merumuskan sesuatu yang absolut dengan jalan filsafat. Masalah terbesar yang dihadapi oleh Hegel adalah jalan yang akan digunakan secara filosofi tidaklah lain menggunakan refleksi yang termasuk dalam intelek dan beroperasi dengan data indrawi. Hegel mengatasi masalah tersebut dengan cara mengangkat refleksi mengenai sesuatu yang absolut tersebut ke taraf rasio atau intuisi intelektual. Sebuah cara dalam mengabungkan antara refleksi dn intuisi menjadi spekulasi filosofis.

Perkembangan Bentuk Roh, Negara, dan Realitas Sosial 

     Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bebas, dan bergerak berdasarkan pikiran rasional yang mengaur kesadaran dirinya sendiri. Namun di sisi lain, manusia juga memiliki watak untuk lebih mementingkan dirinya sendiri, dan sering kali kebebesan yang dimilikinya bersinggungan dengan kebebasan orang lain. Oleh karena itulah, terdapat sebuah alasan untuk membatasi kebebasan dari diri manusia tersebut. Hal tersebut kemudian menjadikan manusia selalu berada dalam pengawasan kekuasaan, yang fungsinya adalah untuk mengkontrol agar kebebasan yang dimiliki manusia tidak bertentangan dengan negara dan kekuasaan itu sendiri.

       Menurut Hegel, manusia yang mampu untuk mengaktualisasikan kebebasan sebagai suatu realitas sosial, hanyalah manusia yang bermoral tinggi. Hal itu berbanding terbalik dengan sekumpulan manusia yang terdiri dari manusia rakus yang juga memiliki kesadaran diri tinggi, manusia tersebut menurut Hegel akan selalu gagal untuk mewujudkan kebebasan. Hegel sendiri setuju dengan pemikiran dasar Rousseau yang mengungkapkan kehendak dan kebebasan rakyat dapat diakomodir dalam sebuah institusi yang bernama negara. Meskupun demikian, Hegel tetap menolak kehendak umum dengan tidak selalu seiring dengan apa yang timbul dalam kehendak rakyat pada saat tertentu, yang mana inti dari paham Hegel terkait dengan roh adalah roh subjektif dan roh objektif.

        Filsafat Hegel berangkat dari roh sebagai proses dari perkembangan dari segala sesuatu. Menurut Hegel, realitas adalah bukan sesuatu yang statis. Realitas akan selalu berkembang, mengasingkan diri, menemukan diriya seniri kembali, meyadari dirinya sendiri melalui taraf-taraf dialektis yang semakin mendalam. Realitas adalah bagian dari subjek yang mana di belakang itu semua terdapat realitas alam, manusia, masyarakat, dan pemikiran individu sosial, dan dari itu semua berlangsunglah sebuah proses pernyataa diri roh alam semesta. Roh subjektif adalah kesadaran masing-masing individu dalam suatu masyarakat. Roh ini bersifat kebeulan dan beraneka ragam karena tergantung pada letak dan situasi masing-masing individu.

       Dalam hal ini kita berbicara mengenai apa yang disebut sebagai kebudayaan, sistem nilai, cara berfikir yang khas dari suatu masyarakat. Kesatuan dari rohani itulah yang kemudian disebut Hegel sebagai roh objektif, roh semesta berada dibalik roh objektif. Roh semesta pad aakhirnya akan selalu menyatakan diri melalu tahapan-tahapan artikulasi kerohanian manusia. Maka dari itu, pikiran dan kehendak setiap manusia yang tampaknya kebetulan dan tanpa aturan pada dasarnya memiliki logika yang mendalam. Relaita sebagai ungkapan roh semesta pada hakikatnya bersifat rasional. Rasionalitas akan individu terungkap dalam roh objektif tanpa disadari oleh individu itu sendiri. Roh objektif tersebut dapat berbentuk identitas dan bentuk defintif dalam kehendak negara. Melalui kehendak negara, masyarakat bertindak sebaga kesatuan.

      Negara mengungkapkan kehendak rakyatnya, meskipun pada fakta empirisnya negara tidak menghendaki apa yang dikehendaki oleh individu. Meskipun demikian, dalam perspektif Hegel, dirinya memandang bahwa negara bersifat otonom dari persetujuan masyarakat. Negara merupakan sebuah jembatan yang mempertemukan kehendak individu dengan kehendak negara. Hal tersebut dikarenakan negara merupakan bentuk dari roh semesta yang menyatakan diri dalam roh subjektif dan objektif. Bagi Hegel, dimensi kekuasaan negara atas hak-hak individu bahkan yang bersifat tresendenpun adalah absolute. Negara merupakan bagian dari perkembangan ide absolute tersebut, wujud perkembangan tersebut juga melalui metode dialektia, yang mana puncak dari dialektika tersebut adalah lahirnya ide mutlak. Pandangan roh yang absolute tersebutlan yang menandai adanya pandangan  Hegel yang sacral dalam memaknai negara. Bagi Hegel, negara merupakan sebuah lembaga yang mendefinisikan ide sebagai ide yang eksis di atas bumi sebagai wujud Tuhan di muka bumi.

Filsafat Sejarah     

                       

      Menurut pandangan Hegel, hal atau benda yang bersifat material merupakan sebuah hasil komulatif dari evolusi ide mutlak yang berjalan secara terus menerus. Hal tersebut disebabkan karena, ide absolute akan terus bergerak secara dinamis dan akan selalu mengalami perkembangan. Ide akan terus bergerak maju untuk merealisasikan dirinya sendiri (unfolding of the reason) dan alam semesta terbentuk dari padanya. Hal tersebut dapat dilihat melalui beberapa bentuk perumpamaan yang diberikan oleh Hegel sebagai perkembagnan dari ide dalam filsafat sejarahnya. Bentuk pertama: materi anorganik, bentuk roh (materi kotor). Bentuk kedua: materi organik (hewan, tumbuhan). Bentuk ketiga: evolusi manusia (agen rasional mampu membedakan baik dan buruk). Bentuk keempat: evolusi sistem keluarga (lambang kesatuan). Bentuk kelima: evolusi sistem masyarakat (ketergantungan dalam berbagai aspek, lambang kekhususan). Bentuk terkahir: evolusi negara (tatanan moral yang sempurna dan melambangkan universalitas).

        Hegel menggambarkan perkembangan dunia filsafat ide dalam bentuk sebagaimana berikut: Anorganik – dunia organik – manusia – keluarga – masyarakat sipil – Negara . Filsafat sejarah berusaha untuk memecahkan masalah dasar tentang hubungan antara materi dan Roh, dengan menyatakan bahwa materi hanya manifestasi dari Roh dalam bentuk mentah. Materi tidak hanya negasi dari Roh tetapi juga realisasi sadar Roh. Dimensi penting kedua, dari filsafat sejarah  Hegel adalah doktrin historisme, yaitu sebuah doktrin Historisme yang menyatakan bahwa seluruh perjalanan sejarah sudah ditentukan sebelumnya. Intervensi/ usaha manusia dapat efektif hanya jika jatuh sejalan dengan arah dialektika sejarah dunia. Dimensi utama ketiga, dari filsafat Historis Hegel adalah penggunaan teleologi Aristoteles, bergerak menuju ujung sifat sejati (hakikat tujuan). Dari sudut pandang aktor manusia, sejarah adalah sebuah serikat ironi dan tragedi yang terjadi dalam urutan waktu tertentu dan memberikan makna pada kehidupan manusia. Bagi Hegel, sejarah dunia menunjukkan perkembangan kesadaran kebebasan pada bagian dari Roh. Filsafat historisme hegel terdiri dari dua bagian: pola umum dan berbagai tahapan dalam pola umum, yang berbicara mengenai doktrin perubahan dalam pegerakan sejarah (dorongan nafsu manusia)

 

Teori Negara Hegel

      Teori negara Hegel berakar pada aksioma: “Apa yang rasional adalah nyata dan apa yang nyata adalah rasional“. Oleh karena itu, Hegel memandang bawha pembentukan atau lahirnya sebuah negara tidak lain didasarkan atas premis dasar sebuah ide absolut melalui proses dialektis. Negara adalah sebuah bentuk yang rasional, oleh karena itu, negara adalah nyata, karena berdasarkan filsafat Hegel, apa yang rasional adalah nyata. Hegel juga membedakan antara yang nyata dan yang hanya ada, Hegel berusaha untuk menjembatani kesenjangan antara rasional dan nyata, yang tidak lain adalah manifestasi semangat tujuan negara tersebut. Negara rasional adalah negara yang datang dari ‘reason’, tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa adanya ‘reason’. Dalam pandangan filsafat sejarah Hegel, terkait dengan proses pembentukan atau lahirnya negara, adalah dari sebuah proses setiap kejadian yang berlangsung sesuai dengan rencana yang rasional.

       Negara adalah manifest tertinggi dari ‘reason’, muncul sebagai sintesis dari keluarga (tesis) dan masyarakat (antitesis). Negara merupakan sebuah wujud absolute dari komunitas masyarakat yang hadir sebagai pemenuh kebutuhan manusia. Negara terlihat setelah kepentingan universal seluruh masyarakat memperoleh karakter organiknya. Teori negara kompleks Hegel, Pertama, Negara berasal dari Tuhan. Kedua, Negara bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan, melainkan sebagai tujuan itu sendiri. Ketiga, Negara lebih besar dari individu. Individu penting karena mereka bagian dari negara. Oleh karena itu, dalam pandangan Hegel, Individu benar-benar menjadi bawahan negara, karena hanya negara yang tahu, kepentingan individu. Negara adalah sempurna karena bagian dari ketuhanan.

Teori Kebebasan Individu Hegel

         Kebebasan individu menurut Hegel adalah, dimana Individu tidak memiliki hak terhadap negara karena negara merupakan sumber dari hak tersebu, karena negara adalah bentuk ide yang absolute dari masyarakat dan individu, negara tahu apa yang baik bagi masyarakatnya. Kebebasan individu terletak pada ketaatan lengkap dari hukum negara, karena negara adalah super-organisme di mana tidak ada yang memiliki preferensi individu berbeda dari unit yang lebih besar. Filsafat terpenting Hegel: pengagungan negara yang lengkap dengan negasi dari hak dan kebebasan individu. Oleh karena itu, maka kebebasan nyata dari individu dapat direalisasikan hanya di negara. Satu-satunya cara bagi individu untuk bebas adalah untuk rela mematuhi hukum negara. Hubungan antara negara dan individu dalam pandangan Hegel sangat dekat dengan posisi Rousseau.

       Individu hanya bebas jika ia mengidentifikasikan dirinya sadar dengan hukum yang berlaku dan mentaati hukum negara. Negara tidak pernah salah, oleh karena itu, jika pernah ada konflik antara individu dan negara, individu selalu salah dan negara selalu benar. Negara Hegelian adalah seperti Leviathan Hobbes dalam pakaian baru, “hegel menyatakan bahwa individu tidak memiliki hak untuk menolak negara atau tidak mematuhi perintah negara”. Individu tidak memiliki hak untuk menentang negara, karena negara merupakan perwujudan dari reason dan individu yang absolute. Perbedaan cara pandang Hegel dengan Hobbers mengenai hubungan natara negara dengan individu adalah, diman Hegel memandang hubungan yang terjadi antara individu-negara sebagai hubungan organic, sedangkan Hobbes hubungan mekanik melalui kontrak

Kesimpulan

     Hegel merupakan salah satu pemikir besar abad modern di Jerman dan Eropa pada umumnya. Dimana pandangan Hegel menitikberatkan pada  puncak/ tujuan akhir dari ide absolut seiring dengan perjalanan dan perkembangan ide tersebut. Fukuyama membuat perbandingan antara pengaruh lanjutan dari Marx dan Hegel yang menyatakan kemenangan Hegel, sebagai doktrin liberalisme modern yang tidak berakhir pada  “keinginan untuk pengakuan” tetapi lebih pada transformasi “menjadi bentuk yang lebih rasional”